Pengobatan Asma

Mengendalikan asma dalam jangka panjang adalah tujuan utama dalam pengobatannya. Tiap penderita asma harus dapat menjalani kehidupan secara utuh tanpa dibatasi oleh penyakitnya tersebut. Bagi sebagian besar penderita, pengobatan yang tersedia terbukti efektif dan memungkinkan mereka terbebas dari gejala asma.

Penanganan asma yang baik
Dokter akan menyesuaikan pengobatan dengan gejala asma Anda. Kadang-kadang Anda membutuhkan tingkat pengobatan yang lebih tinggi pada jangka waktu tertentu. Dalam penanganan yang baik, pasien juga diberikan pemeriksaan rutin untuk memastikan asmanya berada dalam kendali dan pengobatannya cocok. Peninjauan ini dilakukan minimal sekali dalam setahun.

Sebagai bagian dari penanganan asma yang baik, penting bagi Anda untuk memastikan bahwa dokter atau apoteker mengajari Anda tentang cara menggunakan inhaler (obat hirup untuk asma) dengan benar.

Rencana penanganan asma
Informasi mengenai obat-obatan asma Anda harus disertakan dalam rencana penanganan asma. Rencana penanganan ini juga bisa membantu Anda mengetahui kapan gejala bisa memburuk dan langkah apa yang harus diambil. Anda juga biasanya akan diberikan informasi mengenai apa yang harus dilakukan jika terserang asma.

Setidaknya sekali dalam setahun, rencana penanganan asma tersebut harus Anda tinjau ulang bersama dokter. Bahkan peninjauan secara lebih berkala perlu dilakukan jika gejala asma Anda parah.

Anda mungkin akan disarankan untuk membeli peak flow meter (PFM) atau alat pengukur aliran ekspirasi puncak sebagai bagian dari pengobatan. Dengan cara ini Anda dapat memonitor asma Anda sendiri.

Obat-obatan asma yang disarankan

  • Mengatasi asma dengan inhaler
    Biasanya obat-obatan asma diberikan melalui alat yang disebut inhaler (obat hirup untuk asma). Alat ini dapat mengirimkan obat ke dalam saluran pernapasan secara langsung dengan cara dihirup melalui mulut. Menggunakan obat asma dengan cara dihirup dinilai efektif karena obat tersebut langsung menuju paru-paru. Kendati begitu, tiap inhaler bekerja dengan cara yang berbeda. Biasanya dokter akan mengajari Anda cara menggunakan alat tersebut dan melakukan pemeriksaan setidaknya sekali dalam setahun.
  • Spacer sebagai pelengkap inhaler
    Spacer merupakan wadah yang terbuat dari logam atau plastik, yang dilengkapi dengan corong hisap di salah satu ujungnya, dan lubang di ujung lainnya untuk dipasangkan inhaler. Saat inhaler ditekan, obat akan masuk ke dalam spacer dan dihirup melalui corong spacer itu sendiri. Spacer juga dapat mengurangi risiko sariwan di mulut atau tenggorokan, akibat efek samping dari obat-obatan asma yang dihirup.

Saat ditekan, beberapa inhaler memancarkan aerosol jet. Namun aerosol jet ini kinerjanya bisa lebih baik jika diberikan melalui spacer. Spacer mampu meningkatkan jumlah obat-obatan yang mencapai paru-paru dan mengurangi efek sampingnya. Beberapa orang bahkan merasa lebih mudah memakai spacer ketimbang inhaler saja. Pada kenyataannya karena dapat meningkatkan distribusi obat ke dalam paru-paru, penggunaan spacer sering disarankan, bahkan pada mereka telah berhasil menggunakan inhaler sekali pun.

Inhaler jenis pereda
Sesuai namanya, inhaler pereda digunakan untuk meringankan gejala asma dengan cepat saat serangan sedang berlangsung. Biasanya inhaler ini berisi obat-obatan yang disebut short-acting beta2-agonist atau beta2-agonist yang memiliki reaksi cepat. Obat ini mampu melemaskan otot-otot di sekitar saluran pernapasan yang menyempit. Dengan begitu, saluran pernapasan dapat terbuka lebih lebar dan membuat pengidap asma dapat bernapas kembali dengan lebih mudah. Umumnya inhaler pereda berwarna biru dan diberikan pada tiap pengidap asma.

Contoh obat-obatan pereda adalah terbutaline dan salbutamol. Obat-obatan ini memiliki efek samping yang sedikit dan umumnya aman digunakan jika tidak berlebihan. Namun obat-obatan tersebut biasanya jarang digunakan jika asma sudah terkendali dengan baik. Bagi pengidap asma yang harus menggunakan obat ini sebanyak lebih dari tiga kali dalam seminggu, penanganannya secara keseluruhan perlu ditinjau ulang.

Inhaler jenis pencegah
Selain dapat mencegah terjadinya serangan asma, inhaler pencegah juga dapat mengurangi jumlah peradangan dan “kejang-kejang” yang terjadi di dalam saluran napas. Biasanya Anda harus menggunakan inhaler pencegah tiap hari untuk sementara waktu sebelum merasakan manfaatnya secara utuh.

Anda juga mungkin akan membutuhkan inhaler pereda untuk meredakan gejala saat serangan asma terjadi. Namun jika Anda terus-menerus membutuhkan inhaler pereda tersebut, maka penanganan Anda harus ditinjau ulang secara keseluruhan.

Inhaler pencegah biasanya mengandung obat yang disebut kortikosteroid inhalasi. Merokok adalah hal yang harus dijauhi karena dapat menurunkan kinerja inhaler pencegah.

Contoh obat-obatan pencegah asma diantaranya adalah budesonide, beclometasone, mometasone, dan fluticasone. Biasanya inhaler pencegah berwarna oranye, merah, atau cokelat.

Umumnya pengobatan pencegah disarankan jika Anda:

  • Mengalami serangan asma lebih dari dua kali dalam seminggu.
  • Harus menggunakan inhaler pereda lebih dari dua kali dalam seminggu.
  • Terbangun pada malam hari sekali atau lebih dalam seminggu akibat serangan asma.

Kendati begitu, kadang-kadang kortikosteroid inhalasi dapat menyebabkan terjadinya oral thrush atau infeksi jamur pada dinding mulut. Karena itu tiap selesai menghirup obat ini, pasien disarankan untuk berkumur-kumur dengan air hingga bersih.

Berbagai terapi obat–obatan lainnya

  • Mengatasi asma dengan inhaler pereda reaksi lambat
    Jika asma tidak kunjung mereda oleh pengobatan sebelumnya, dokter bisa meningkatkan dosis inhaler pencegah. Jika langkah ini tidak juga dapat mengendalikan gejala asma, biasanya dokter akan memberikan pasien tambahan obat yang disebut long-acting reliever atau obat pereda asma reaksi lambat (long-acting bronchodilator/long-acting beta2-agonist atau LABA).
  • Alternatif lainnya adalah pasien akan diberikan inhaler kombinasi atau inhaler yang dikombinasikan dengan steroid inhalasi dan bronkodilator reaksi lambat dalam satu perangkat. Khasiatnya sama dengan obat pereda reaksi cepat, hanya saja kinerjanya butuh waktu yang lebih lama dan efeknya bisa bertahan hingga 12 jam. Contoh inhaler pereda reaksi lambat adalah salmeterol dan formoterol.
  • Selalu kombinasikan inhaler pereda reaksi lambat dengan inhaler pencegah dan jangan pernah menggunakannya sendiri. Penelitian telah membuktikan bahwa penggunaan inhaler pereda reaksi lambat sendiri dapat meningkatkan risiko serangan asma, bahkan kematian. Contoh kombinasi inhaler adalah Seretide, Symbicort, dan Fostair. Biasanya masing-masing berwarna ungu, merah, dan merah tua.

Obat-obatan pencegah lainnya
Dokter biasanya akan menyarankan Anda mencoba obat-obatan pencegah tambahan, jika asma masih belum berhasil dikontrol. Dua obat yang mungkin digunakan adalah:

  • Theophylline, yaitu tablet yang membantu melebarkan saluran napas dengan melemaskan otot-otot di sekelilingnya.
  • Leukotriene receptor antagonist (montelukast), yaitu tablet yang menghambat bagian dari reaksi kimia yang menyebabkan radang di dalam saluran pernapasan.

Tablet steroid mungkin akan diresepkan dokter jika asma Anda masih belum bisa dikendalikan. Pengobatan ini biasanya dipantau oleh dokter spesialis pernapasan. Namun penggunaan steroid oral secara jangka panjang dapat menyebabkan efek samping yang serius. Oleh karena itu cara pengobatan ini hanya dianjurkan jika si pasien telah melakukan cara pengobatan lainnya, namun belum berhasil.

Penggunaan steroid oral secara sesekali
Sebagian besar orang hanya perlu menggunakan steroid oral selama satu hingga dua minggu. Biasanya mereka akan kembali ke pengobatan sebelumnya setelah asma dapat dikendalikan.

Omalizumab sebagai obat baru
Omalizumab merupakan obat-obatan kategori baru. Obat ini dikenal juga sebagai Xolair. Obat ini mengikat ke salah satu protein yang terlibat dalam responsimun dan mengurangi kadarnya dalam darah. Dengan kata lain, obat ini menurunkan peluang terjadinya reaksi imun atau peradangan.

Pada umumnya, omalizumab direkomendasikan untuk penderita yang sangat sering mengalami serangan asma dan memerlukan penanganan gawat darurat atau rawat inap di rumah sakit.

Sebagai obat yang biasanya hanya diresepkan oleh dokter spesialis, omalizumab diberikan dengan cara disuntikan tiap dua hingga empat minggu sekali. Penggunaan omalizumab harus dihentikan jika obat ini tidak berhasil mengendalikan asma dalam kurun waktu enam belas minggu.

Prosedur pengobatan bronchial thermoplasty
Bronchial thermoplasty adalah prosedur pengobatan asma baru yang masih terus diteliti dan belum tersedia di Indoesia. Dalam beberapa kasus, prosedur ini digunakan untuk mengobati asma parah dengan cara mengurangi penyempitan pada saluran pernapasan.

Ada beberapa bukti yang menunjukkan bahwa prosedur ini dapat mengurangi serangan asma dan memperbaiki kualitas hidup penderita asma parah. Kendati begitu, keuntungan maupun kerugian secara jangka panjangnya belum sepenuhnya diketahui.

Efek samping dari berbagai pengobatan

  • Efek samping inhaler pereda dan pencegah
    Selama penggunaannya tidak melebihi dosis, inhaler pereda merupakan pengobatan yang aman yang tidak memiliki banyak efek samping. Efek samping yang umum dari pengobatan ini diantaranya adalah sakit kepala, kram otot, dan sedikit gemetar pada tangan. Namun gejala-gejala ini biasanya hanya terjadi pada penggunaan inhaler pereda dalam dosis tinggi dan hanya berlangsung selama beberapa menit.
  • Sedangkan untuk inhaler pencegah, pengobatan ini sangat aman pada dosis reguler, meski pada dosis tinggi dapat menyebabkan beberapa efek samping, terutama dalam penggunaan jangka panjang. Efek samping utama dari inhaler pencegah adalah infeksi jamur di dalam mulut atau tenggorokan yang disebut juga sebagai kandidiasis oral. Suara Anda juga mungkin akan serak. Namun efek samping ini bisa dicegah jika Anda menggunakan spacer. Selain itu, dianjurkan untuk berkumur dengan air bersih setelah menggunakan inhaler pencegah.
  • Dokter biasanya akan menjelaskan mengenai pengobatan apa yang sesuai dengan asma Anda beserta dengan efek sampingnya, seperti menjelaskan mengenai cara untuk meminimalisasi efek samping tersebut.
  • Efek samping dari obat-obatan tambahan
    Efek samping dari penggunaan inhaler pereda reaksi lambat mungkin sama dengan inhaler pereda reaksi cepat, yaitu sakit kepala, kram otot, dan sedikit gemetar pada tangan. Dokter biasanya akan menjelaskan pada Anda mengenai manfaat dan risiko dari pengobatan tersebut. Biasanya Anda akan dipantau diawal pengobatan dan ditinjau ulang secara rutin. Jika penggunaan inhaler pereda reaksi lambat tidak kunjung meredakan asma Anda, hentikanlah secepatnya.
  • Pada beberapa orang, tablet theophylline diketahui menyebabkan efek samping, seperti mual, sakit kepala, muntah, insomnia, gangguan perut, dan cepat marah. Namun hal ini biasanya dapat dihindari dengan penyesuaian dosis.
  • Leukotriene receptor antagonist umumnya tidak menimbulkan efek samping, meski ada sejumlah laporan yang menyebutkan bahwa obat ini bisa menyebabkan penderita asma yang mengonsumsinya mengalami sakit kepala, gangguan perut, dan merasa haus.
  • Efek samping dari steroid
    Steroid dapat menimbulkan efek samping jika dikonsumsi lebih dari tiga bulan atau sering (tiga hingga empat rangkaian pengobatan dalam setahun). Efek sampingnya meliputi:
  1. Tekanan darah tinggi atau hipertensi
  2. Kenaikan berat badan
  3. Tulang menjadi keropos
  4. Kelemahan otot
  5. Penipisan kulit
  6. Mudah memar
  7. Katarak dan glaukoma

Ada beberapa hal yang bisa Anda lakukan untuk meminimalisasi risiko dalam penggunaan steroid oral, diantaranya dengan rutin berolah raga, tidak merokok, dan mengonsumsi makanan sehat dengan kadar kalsium tinggi. Sebaiknya Anda juga rutin memeriksakan diri agar terhindar dari oeteoporosis, diabetes, dan tekanan darah tinggi.

Asma akibat pekerjaan
Jika Anda diduga mengidap asma dikarenakan pekerjaan, konsultasikanlah dengan dokter untuk memastikan diagnosis. Informasikan diagnosis Anda pada perusahaan, serta pada petugas kesehatan dan keamanan perusahaan di bagian layanan kesehatan kerja.

Perusahaan memiliki tanggung jawab untuk melindungi Anda dari penyebab asma. Dan jika memang memungkinkan, perusahaan mengganti bahan-bahan yang mengandung zat pemicu asma dengan bahan-bahan yang lebih aman. Sejumlah langkah dapat diambil untuk meminimalisasi dampak pemicu asma di lingkungan kerja. Mintalah pada perusahaan untuk memindahkan Anda ke bagian lain sesegera mungkin. Jika tidak bisa, sebaiknya Anda pertimbangkan untuk mencari pekerjaan baru.

Penanggulangan serangan asma
Melalui rencana penanganan asma, Anda akan dapat mengetahui gejala awal asma, cara menanggulanginya, dan mengetahui kapan harus memeriksakan diri ke dokter.

Biasanya serangan asma ditangani dengan pemberian obat-obatan pereda sebanyak satu atau beberapa dosis. Jika gejala serangan asma memburuk, Anda mungkin membutuhkan penanganan di rumah sakit. Di rumah sakit, Anda akan diberikan oksigen dan obat pereda asma yang dikombinasikan dengan obat-obatan pencegah agar asma Anda bisa terkendali kembali.

Setelah terjadi serangan asma, rencana penanganan Anda harus ditinjau ulang bersama dokter. Tujuannya adalah agar Anda maupun dokter dapat mengetahui penyebab serangan asma Anda tersebut, serta tidak terulang di masa mendatang.

Terapi-terapi pelengkap untuk mengobati asma
Beberapa terapi pelengkap yang disarankan untuk mengobati asma, antara lain:

  1. Akupunktur
  2. Obat tradisional China
  3. Latihan pernapasan
  4. Homeopati
  5. Suplemen makanan
  6. Teknik Alexander, yaitu program latihan yang dirancang untuk mengubah cara
  7. Anda menggerakkan tubuh
  8. Ionizer, yaitu sebuah alat yang dapat membersihkan molekul udara dengan menggunakan arus listrik

Kecil kemungkinan dari bentuk penanganan di atas dapat memberikan hasil yang efektif, kecuali latihan pernapasan. Ada bukti yang cukup kuat bahwa latihan pernapasan, seperti yoga, metode Buteyko (teknik mengenai pernapasan dangkal), dan teknik pernapasan yang diajarkan fisioterapis, dapat mengurangi gejala asma serta kebutuhan obat-obatan pereda pada sebagian orang.

Sumber : www.alodokter.com

Pengertian Asma