Penyebab Autisme

Autisme tanpa faktor penyebab dasar atau autisme primer merupakan jenis autisme yang paling umum terjadi. Jumlahnya diperkirakan mencapai 90 persen dari keseluruhan penyandang autisme.

Dalam kasus-kasus tertentu, autisme juga mungkin disebabkan oleh suatu penyakit atau faktor lingkungan. Autisme sekunder ini jarang terjadi dan hanya dialami sekitar 10 persen penyandang autisme.

Ada beberapa faktor genetika dan lingkungan yang diperkirakan dapat memicu autisme, tetapi penyebab pastinya belum diketahui. Ada juga beberapa hal yang dikiramenyebabkan autisme, tapi ternyata tidak terbukti, yaitu:

  • Senyawa thiomersal yang mengandung merkuri (digunakan sebagai pengawet untuk beberapa vaksin).
  • Vaksin campak, gondong, dan rubela (MMR).
  • Pola makan, seperti mengonsumsi gluten atau produk susu.
  • Pola asuh anak.

Selain itu, ada beberapa kategori yang dapat digunakan untuk mengelompokkan faktor pemicu risiko autisme, di antaranya:

Faktor Keturunan Dalam Autisme
Mutasi dari gen tertentu dapat mempertinggi risiko autisme pada anak. Ada gen-gen keturunan tertentu yang dipercaya dapat membuat anak-anak lebih rentan terhadap autisme.

Jika ada orang tua dengan anak autis, mereka dipercaya memiliki kemungkinan lebih tinggi untuk memiliki seorang anak yang mengidap autis lagi. Sedangkan jika salah seorang anak kembar mengidap autisme, kemungkinan saudara kembarnya mengidap kelainan yang sama juga.

Pengaruh Kelahiran dan Masa Dalam Kandungan
Seorang anak mungkin terpajan faktor-faktor lingkungan tertentu selama berada dalam kandungan. Sebagian peneliti mengungkapkan teori bahwa anak yang terlahir rentan terhadap autisme hanya akan positif mengidap autisme jika terpajan faktor pemicu tertentu dari lingkungan, antara lain:

  • Kelahiran prematur.
  • Terpajan alkohol atau obat-obatan, misalnya sodium valproate yang terkadang digunakan untuk mengobati epilepsi, selama dalam kandungan.

Pengaruh Faktor Neurologis
Gangguan spesifik pada perkembangan otak dan sistem saraf juga dapat berpengaruh. Menurut teori medis dan penelitian pemetaan otak yang mempelajari penyandang autisme, koneksi antara bagian-bagian otak mungkin mengalami kekacauan atau menjadi hipersensitif.

Koneksi yang kacau atau hipersensitif tersebut mengakibatkan para penyandang autisme tiba-tiba merasakan respons emosional berlebihan saat melihat objek atau kejadian sepele. Mungkin inilah alasan para penyandang autisme menyukai rutinitas dan sangat marah jika terjadi perubahan. Rutinitas memberi mereka pola perilaku yang tidak memancing respons emosional yang berlebihan.

Pengaruh Faktor Psikologis Dalam Autisme
Salah satu faktor risiko yang diperkirakan memengaruhi gejala penyandang autisme adalah perbedaan mereka dalam pola pikir. Sebuah konsep yang dikenal sebagai ‘teori pikiran’ (theory of mind) menjadi dasar dalam berbagai penelitian yang mendalami kemungkinan pengaruh faktor psikologis terhadap autisme. Teori ini memaparkan tentang kemampuan seseorang untuk memahami kondisi kejiwaan orang lain dan menyadari bahwa tiap individu memiliki keinginan, keyakinan, emosi, serta hasrat masing-masing.

Anak-anak yang normal dianggap sudah memahami teori pikiran saat berusia sekitar empat tahun. Sedangkan anak-anak dengan autisme memiliki pemahaman terbatas atau tidak sama sekali tentang teori pikiran. Keterbatasan inilah yang mungkin menjadi akar permasalahan mereka dalam interaksi sosial serta menjadi alasan adanya gejala psikologis dalam autisme.

Pengaruh Usia Ibu
Risiko sang anak mengidap autisme diperkirakan semakin meningkat jika sang ibu menjalani masa kehamilan dan melahirkan pada usia lebih tua (terutama, di atas 35 tahun).

Sumber : www.alodokter.com